Inyiak Baliau (Buya Lubuak Landua) Bagian 1

INYIAK BALIAU (Buya Lubuak Landua)

Ini adalah bagian pertama dari cerita rakyat Minangkabau
tentang Inyiak Baliau atau Buya Lubuak Landua dari
Jorong Lubuak Landua, Aua Kuniang, Pasaman Barat.
Cerita ini disusun untuk melestarikan sejarah dan nilai
kearifan lokal agar dapat diwariskan kepada generasi muda.

Bagian 1: Jejak Perantauan dari Bonjol

Konon kabarnya, pada awal abad ke-17 Masehi, di tanah Bonjol hidup seorang lelaki alim bernama Peto Sulaiman. Tubuhnya tinggi tegap, berwajah bersih, dengan jambang tipis yang membuatnya sekilas menyerupai orang Turki. Ia dikenal sebagai sosok berilmu tinggi, menguasai agama, tasawuf, dan silat batin. Dalam silsilah kekerabatan, Peto Sulaiman memiliki hubungan dengan Peto Syarif, yang kemudian dikenal sebagai Imam Bonjol.

Pada suatu masa, Peto Sulaiman memutuskan untuk merantau. Bersama istrinya dan seorang anak bujang bernama Salim Peto Bandaro, ia meninggalkan Bonjol menuju Aur Kuning, Pasaman Barat. Selain ingin membuka ladang pertanian, ia juga membawa misi dakwah untuk menyebarkan ajaran agama dan tasawuf.

Perjalanan mereka menelusuri lereng Gunung Pasaman tidaklah mudah. Hutan lebat dan jalan setapak menjadi tantangan. Pada suatu ketika, Peto Sulaiman tiba-tiba menghentikan langkah.

Berhenti, jangan bergerak!

Di hadapan mereka, tersembunyi di balik semak, seekor ular besar sebesar paha orang dewasa siap menyerang. Dengan tenang, Peto Sulaiman mengambil sebatang ranting, membaca doa, lalu melemparkannya. Ajaib, ular itu seketika kaku dan tak mampu bergerak.

“Alhamdulillah, kita diselamatkan oleh Allah,” ucap istrinya dengan suara bergetar.

Salim menatap ayahnya dengan penuh kagum.
“Wahai Ayah, doa apa yang Ayah baca tadi?”

Bismillāhi Allāhu Akbar,” jawab Peto Sulaiman.
“Namun yang paling penting adalah keyakinan dan makrifat kepada Allah.”

Dengan hati yang semakin mantap, perjalanan mereka pun dilanjutkan menuju tanah harapan.

Bersambung ke Bagian 2 – Awal Kehidupan di Lubuak Landua

Bersambung ke Bagian 3 – Salim Peto Bandaro dan Lahirnya Seorang Ulama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tukang Letta: Karamah Tukang Rumah dalam Sejarah Masjid Buya Lubuak Landua

Inyiak Baliau (Buya Lubuak Landua) Bagian 4